Bismillah...
Disebabkan adanya segelintir orang yg mengingkari ruqyah syar'iyyah dan mempertanyakan dalil2nya yg shahih, maka di sini saya akan sampaikan beberapa hal terkait ruqyah syar'iyyah (ruqyah yg syar'i), semoga dapat membantu siapa saja yg ingin memahaminya.
A. Disyariatkannya Ruqyah
Terdapat beberapa nash yang shahih bahwa pada awalnya Rasulullah ﷺ melarang para sahabatnya melakukan pengobatan dengan cara ruqyah, karena praktik ruqyah pada masa jahiliyah sering dicampurkan dengan praktik syirik dan sihir. Namun ketika para sahabat memperlihatkan praktik ruqyah yang bersih dari syirik dan sihir, beliau pun memberikan rukhshah, membolehkannya dan bahkan memerintahkannya.
Tentang rukhshah (keringanan) dalam ruqyah disebutkan dalam hadits berikut:
“Dari Abdurrahman bin Aswad, dari ayahnya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah ra, tentang ruqyah dari setiap (binatang) yang berbisa.’ Maka Aisyah berkata:
رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّقْيَةَ مِنْ كُلِّ ذِيْ حُمَةٍ.
‘Rasulullah ﷺ memberi rukhshah (memperbolehkan) ruqyah dari setiap (binatang) berbisa’.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Kata Rakhkhasha di dalam hadits ini menunjukkan bahwa ruqyah itu dahulu dilarang.
Imam Muslim meriwayatkan juga dalam shahihnya:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ لِيْ خَالٌ يَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ فَنَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرُّقَى, قَالَ: فَأَتَاهُ, فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى وَأَنَا أَرْقِى مِنَ الْعَقْرَبِ. فَقَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ.
Dari Jabir ra, ia berkata: “Dahulu pamanku pernah meruqyah orang yang terkena sengatan kalajengking, maka Rasulullah melarang ruqyah.” (Jabir) berkata: Kemudian pamanku itu datang kepada beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhya engkau melarang ruqyah ketika saya ingin meruqyah bisa kalajengking?” maka Nabi bersabda: “Barang siapa diantara kalian mampu untuk memberi manfaat pada saudaranya, maka lakukanlah.” (HR. Muslim)
عَنْ أَنَسٍ قَالَ:رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الرُّقْيَةِ مِنْ اْلعَيْنِ وَالْحُمَةِ وَالنَّمْلَةِ.
“Dari Anas ra, ia berkata: ‘Rasulullah memberi rukhshah (memperbolehkan) ruqyah dari (penyakit) ‘Ain, bisa dan bisul.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi berkata: “ Makna hadits ini bukanlah membatasi atau mengkhususkan bolehnya ruqyah pada tiga hal tersebut saja. Namun maknanya adalah ketika Nabi ditanya tentang tiga hal tersebut, lalu beliau mengizinkannya. Dan jika beliau ditanya untuk hal yang lainnya, maka beliau akan mengizinkannya juga. Adalah beliau pernah mengizinkan ruqyah untuk selain tiga hal tersebut, dan beliau juga pernah meruqyah untuk selain tiga hal tersebut.”
Dari beberapa keterangan di atas, dapat kita pahami bahwa benar ruqyah itu dahulu pernah dilarang oleh Nabi ﷺ, yaitu ketika praktik ruqyah tersebut masih bercampur dengan unsur syirik dan sihir, seperti yang dilakukan di masa jahiliyah. Namun kemudian beliau membolehkannya setelah jelas bahwa ruqyah yang dilakukan oleh para sahabat beliau sudah bersih dari unsur-unsur syirik.
Di dalam hadits Muslim disebutkan bahwa orang-orang berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa jahiliyah pernah meruqyah.” Lalu Nabi ﷺ bersabda:
أَعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقْيَةِ مَالَمْ تَكُنْ شِرْكًا.
“Kemukakanlah kepadaku jampi-jampi (ruqyah) kalian itu, tidaklah mengapa melakukan ruqyah selama tidak berupa kesyirikan.” (HR. Muslim dalam Kitabus Salam)
Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, juga meriwayatkan bahwa Rasulullah masuk kepadanya pada saat ada seorang wanita yang sedang diobati dan dibacakan ruqyah kepadanya. Lalu Nabi ﷺ bersabda:
عَالِجِيْهَا بِكِتَابِ اللهِ.
“Obatilah dengan kitab Allah.” (Dishahihkan oleh Al-Bani dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah)
Sedangkan di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Said Al-Khudri pernah bepergian bersama sejumlah sahabat nabi, kemudian mereka singgah di salah satu lembah, seraya meminta penduduk lembah tersebut agar menerima mereka sabagai tamu.
Namun penduduk lembah itu enggan menerima mereka sebagai tamu. Kemudian pemimpin penduduk itu disengat sesuatu, hingga mereka datang kepada para sahabat seraya berkata: “Apakah ada salah seorang diantara kalian yang bisa meruqyah?” Abu Said Al-Khudri berkata: “Saya bisa, tetapi saya tidak bersedia meruqyah untuk kalian sehingga kalian memberikan suatu pemberian kepada kami.” Kemudian Abu Said Al-Khudri meruqyah orang yang tersengat tersebut. Setelah diruqyah, orang itu berdiri dengan gesit seakan-akan baru lepas dari sebuah ikatan. Kemudian mereka memberi sejumlah kambing kepada para sahabat. Ketika tiba kembali (di Madinah) mereka mengabarkannya kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda kepada Abu Said Al-Khudri: “Dengan apa kamu meruqyahnya?” Abu Said Al-Khudri menjawab: “Dengan membaca Al-Fatihah.” Nabi ﷺ bersabda:
وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ وَفِى لَفْظٍ, قَالَ:أَصَبْتُم اقْسِمُوْا وَاضْرِبُوْا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ.
“Bagaimana kamu tahu bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah?.” Dalam lafazh yang lain disebutkan: Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Kalian telah berbuat benar. Sekarang, bagikanlah dan jadikan aku termasuk bersama kalian sebagai orang yang mendapatkan bagian.”
B. Melakukan Ruqyah Berarti Menghidupkan Sunnah
Ketika masih ada segelintir orang yang menganggap ruqyah itu sebagai perkara bid’ah atau hanya sekedar menyatakan makruh, maka kita ketahui bahwa sebenarnya mereka berbicara tanpa didasari pengetahuan yang utuh dan tanpa berlandaskan pada dalil-dalil yang bisa dipertanggung jawabkan.
Marilah sekali lagi kita cermati, bagaimana teladan Rasulullah ﷺ, para sahabat beliau dan para ulama pendahulu kita dalam hal ruqyah syar’iyyah ini:
1. Perintah Nabi Untuk Meruqyah
Dari Jabir ra, ia berkata: “Rasulullah ﷺ memberi rukhshah (keringanan) kepada keluarga Hazm untuk diruqyah (karena bisa ular), dan beliau berkata kepada Asma binti ‘Umais:
مَالِى أَرَى أَجْسَامَ بَنِىْ أَخِىْ ضَارِعَةً يُصِيْبُهُمُ الْحَاجَةُ؟ قَالَتْ: لاَ وَلَكِنَّ الْعَيْنُ تُسْرِعُ إِلَيْهِمْ فَقَالَ: أَرْقِيْهِمْ، فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ: أَرْقِيْهِمْ.
“Mengapa aku melihat tubuh anak-anak saudaraku kurus sekali, apakah ada suatu hal yang menimpa mereka?” Asma menjawab: “Bukan, tetapi penyakit ‘ain (kena mata) begitu cepat menimpa mereka.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Ruqyahlah mereka,” Asma berkata: “Maka aku hadapkan mereka kepada Nabi, beliau bersabda: “Ruqyahlah mereka.” (HR. Muslim)
2. Nabi ﷺ meruqyah sahabatnya
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ قَالَ: لَمَّا اسْتَعْمَلَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى الطَّائِفِ جَعَلَ يَعْرِضُ لِيْ شَيْءٌ فِى صَلاَتِيْ حَتَّى مَا أَدْرِيْ مَا أُصَلِّى، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَالِكَ رَحَلْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ: ابْنُ أَبِى الْعَاصِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: مَا جَاءَ يِكَ؟ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَرَضَ لِيْ شَيْءٌ فِي صَلَوَاتِيْ حَتَّى مَا أَدْرِيْ مَا أُصَلِّي، قَالَ: ذَاكَ الشَّيْطَانُ، ادْنُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَجَلَسْتُ عَلَى صُدُوْرِ قَدَمَيَّ، قَالَ: فَضَرَبَ صَدْرِيْ بِيَدِهِ وَتَفَلَ فِي فَمِيْ وَقَالَ: اخْرُجْ عَدُوَّ اللهِ فَفَعَلَ ذَالِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: الْحَقْ بِعَمَلِكَ، قَالَ: فَقَالَ عُثْمَانُ فَلَعَمْرِيْ مَا أَحْسِبُهُ خَالَطَنِيْ بَعْدُ.
Utsman bin Abil ‘Ash berkata, “Ketika Rasulullah menugaskanku di Thaif, aku mengalami suatu gangguan dalam shalatku hingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku lakukan. Ketika aku menyadarinya, maka aku mendatangi Rasulullah ﷺ. Beliau menyapa, ‘Ibnu Abil ‘Ash?’ Aku menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu datang kemari?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, telah muncul sesuatu dalam shalatku hingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku kerjakan’. Beliau bersabda, ‘Itu adalah setan. Mendekatlah kepadaku.’ Lalu aku mendekat kepada beliau dan duduk diatas kedua telapak kakiku. Beliau memukul dadaku dengan tangannya dan meludah di mulutku, seraya bersabda, ‘Keluarlah wahai musuh Allah.’ Beliau melakukannya tiga kali, kemudian bersabda. ‘Lanjutkan tugasmu.’ Utsman berkata, ‘Sungguh setelah itu aku tidak pernah terkena gangguan lagi’.” (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Bani dalam sunan Ibnu Majah no.2858)
3. Sahabat nabi melakukan ruqyah
عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ قَرَأَ فِى أُذُنِ مُبْتَلَى فَأَفَاقَ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا قَرَأْتَ فِى أُذُنِهِ؟ قَالَ: قَرَأْتُ (أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا...) حَتَّى فَرَغَ مِنَ السُّوْرَةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَنَّ رَجُلاً مُوَفَّقًا قَرَأَهَا عَلَى جَبَلٍ لَزَالَ.
“Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa ia pernah membaca di telinga orang yang terkena gangguan jin lalu sembuh. Kemudian Nabi ﷺ bertanya kepadanya, ‘Apa yang kamu baca di telinganya?’ Ibnu Mas’ud menjawab: ‘Aku baca: Afahasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsan... sampai akhir surat.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, Sekiranya ada orang yang mendapatkan taufiq membacanya kepada gunung, niscaya gunung itu akan hancur’.”
Al-Haitsami menyebutkan, di dalam sanadnya ada Ibnu Lahi’ah, padanya ada kelemahan dan haditsnya hasan. Sedangkan perawi lainnya adalah para perawi shahih. (Mazma’uz Zawaid, 5/115)
4. Para ulama melakukan ruqyah
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengisahkan, “Aku menyaksikan guruku (Ibnu Taimiyah) mengutus seseorang kepada orang yang kerasukan jin untuk berbicara kepada jin yang ada di jasadnya. Utusan itu berkata, ‘Syaikh (Ibnu Taimiyah) berkata: Keluarlah, karena hal ini tidak boleh kamu lakukan!’, lalu orang itu pun sadar.
Terkadang beliau langsung yang berbicara kepada jinnya, dan adakalanya jin itu membangkang hingga harus dikeluarkan dengan pukulan. Ketika tersadar, orang yang kerasukan itu sama sekali tidak merasakan sakit bekas pukulan tersebut. Kami bersama yang lainnya telah berulang-ulang menyaksikan beliau melakukan hal itu. Bacaan yang sering beliau perdengarkan di telinga orang yang kerasukan itu adalah: Afahasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsan wa annakum ilainaa laa turja’un.”
Di dalam kitab Thabaqaatu Ash-Haabi Al-Imam Ahmad, Al-Qadhi Abul Husain bin Al-Qadhi Abu Ya’la Al-Farra’ Al-Hambali berkata: “Aku mendengar Ahmad bin Ubaidillah berkata: Aku mendengar Abul Husain Ali bin Ahmad bin Ali Al-Akbari datang kepada kami dari Akbara pada bulan Dzul Qa’dah tahun 352 H, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku bapakku dari kakekku, ia berkata: Ketika aku berada di masjid Abu Abdullah Ahmad bin Hambal, Al-Mutawakkil mengutus seseorang kepadanya seraya memberitahukan bahwa anak perempuannya mengalami kesurupan, lalu utusan itu memohon agar beliau berdo’a kepada Allah untuk kesembuhan anak perempuan tersebut.
Kemudian Imam Ahmad mengeluarkan dua sandal kayunya dari tempat wudhu, lalu diberikan kepada utusan tersebut sambil berkata: ‘Kembalilah ke rumah Amirul Mukminin dan duduklah di sisi kepala anak perempuan tersebut, lalu katakanlah kepada jinnya: ‘Ahmad bertanya kepadamu, mana yang lebih kamu sukai, keluar dari tubuh anak perempuan ini atau dipukul tujuh puluh kali dengan sandal ini?’ Lalu utusan itu pun kembali (ke rumah Amirul Mukminin) dan melakukan apa-apa yang dipesankan oleh Imam Ahmad kepadanya. Maka jin yang ada di tubuh anak perempuan itu berkata melalui lisannya: ‘Aku patuh dan taat kepada Imam Ahmad, seandainya beliau memerintahkan kami agar tidak tinggal di Iraq, tentu kami tidak akan tinggal di Iraq. Sungguh, beliau (Imam Ahmad) adalah orang yang taat kepada Allah sehingga Allah menjadikan segala perkara taat kepadanya’. Kemudian jin itu keluar dari jasad anak perempuan tersebut, ia pun sembuh seperti sedia kala. Bahkan di kemudian hari ia melahirkan dan dikaruniai beberapa orang anak. Namun setelah Imam Ahmad meninggal, jin itu datang lagi merasuki perempuan tersebut.
Lalu Al-Mutawakkil mengutus seseorang kepada Abu Bakar Al-Maruzzi untuk mengobatinya. Lalu Al-Maruzzi mengambil sandal dan pergi menemui perempuan itu dan memerintahkan jinnya agar keluar. Jin tersebut berkata melalui lisan perempuan itu: ‘Kami tidak akan keluar dari perempuan ini, kami tidak akan taat kepadamu. Imam Ahmad orang yang taat kepada Allah, lalu kami diperintahkan mentaatinya’.”
Wallahu a'lamu bish shawaab
*-BARAKALAHU FIIKUM*-
*-☎ Konsultasi ruqyah syar'iyyah Bekasi
📞08176866747 (WhatsApp)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar