Kamis, 29 Juni 2017

SEPULUH AKIBAT BERBUAT MAKSIAT

10 Akibat Berbuat Maksiat

Islampos / Saad Saefullah 

“Dan musibah apapun yang meimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri,” (QS. As-Syuura : 30)

SAAT ini banyak sekali macam-macam penyakit yang ada di masyarakat dan di antaranya bahkan sangat sulit disembuhkan. Nama-nama penyakitnya pun aneh dan beragam. Ada penyakit flu babi, flu burung, dan lainnya. Ada biang penyakit dan wabah yang telah dilalaikan oleh manusia secara umum, dan kebanyakan kaum muslimin secara khusus. Biang penyakit tersebut adalah maksiat.

Telah banyak dalil, baik dari al-Qur’an dan As-Sunnah, serta dari berbagai fakta di alam semesta, yang menunjukkan bahwa kemaksiatan adalah salah satu penyebab terjadinya berbagai petaka dan penyakit. Allah SWT. berfirman: “Dan sungguh-sungguh Kami akan menimpakan adzab kecil (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajdah: 21).

Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan adzab dekat (kecil) ialah berbagai musibah yang terjadi di dunia, penyakit dan petaka yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya, agar mereka bertaubat.” Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kejelekan, niscaya ia akan diberi balasan dengannya.” (QS. An-Nisa’ : 123)

Qatadah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa tidaklah ada seorang yang tergores oleh ranting, atau terkilir kakinya atau terpelintir uratnya, melainkan akibat dari dosa yang ia perbuat.”

Pada suatu hari ada seorang yang bertanya kepada sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas di hadapan sahabat Usamah bin Zaid tentang penyakit (wabah) tha’un, maka sahabat Usamah bin Zaid mengabarkan bahwa Rasulullah SAW. pernah menjelaskan tentang hal itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya penyakit ini adalah kotoran yang dengannya Allah mengadzab sebagian umat sebelum kalian, kemudian tersisa di bumi, kadangkala ia hilang dan kadangkala ia datang kembali.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Tidak mengherankan bila Nabi SAW. menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari setiap musibah yang menimpa seorang muslim ialah untuk menghapuskan kesalahan dan dosanya. “Tidaklah seorang muslim ditimpa rasa letih, rasa sakit, gundah pikiran, rasa duka, gangguan dan kebingungan sampai-sampai duri yang menusuknya, melainkan akan Allah hapuskan sebagian dari kesalahannya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Qayim al-Jauziyah mengatakan, “Perbuatan maksiat adalah faktor terbesar yang menghapus barakah usia, rezeki, ilmu, dan amal. Setiap waktu, harta, fisik, kedudukan, ilmu, dan amal yang Anda gunakan untuk maksiat kepada-Nya, maka sebenarnya semua bukan milik Anda. Usia, harta, kekuatan, kedudukan, ilmu, dan amal yang merupakan milik Anda sebenarnya adalah yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah.”

Selanjutnya, Ibnu Qayim lebih lanjut menerangkan akibat-akibat dari berbuat maksiat ini secara terperinci. Ini rangkumannya:

1-Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata, “Aku melihat Allah Swt telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”

2- Maksiat Menghalangi Rezeki

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki. Maka meninggalkannya berarti menimbulkan kefakiran. “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya” (HR. Ahmad).

3- Maksiat Menimbulkan Jarak Dengan Allah Swt

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa diatas dosa.”

4- Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain

Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri.

Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah Swt, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

5- Maksiat Menyulitkan Urusan

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Maksiat Menggelapkan Hati Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita.

Ibnu Abbas ra berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rizki dan kebencian makhluk.”

6- Maksiat Melemahkan Hati dan Badan

Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat maka kuatlah badannya. Tapi bagi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah jika kekuatan itu sedang dia butuhkan, hingga kekuatan pada dirinya sering menipu dirinya sendiri. Lihatlah bagaimana kekuatan fisik dan hati kaum muslimin yang telah mengalahkan kekuatan fisik bangsa Persia dan Romawi.

7-Maksiat Menghalangi Ketaatan

Orang yang melakukan dosa dan maksiat akan cenderung untuk memutuskan ketaatan. Seperti selayaknya orang yang satu kali makan tetapi mengalami sakit berkepanjangan dan menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik.

8- Maksiat Memperpendek Umur dan Menghapus Keberkahan

Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Sementara itu tak ada yang namanya hidup kecuali jika kehidupan itu dihabiskan dengan ketaatan, ibadah, cinta dan dzikir kepada Allah serta mementingkan keridhaan-Nya.

9- Maksiat Menumbuhkan Maksiat Lain

Seorang ulama Salaf berkata, bahwa jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorong dia untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi si pelaku.

10- Maksiat Mematikan Bisikan Hati Nurani

Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan dan sebaliknya akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan untuk bertobat. Inilah yang akan menjadi penyakit hati yang paling besar. []

Dari islampos dipublish oleh QhI ruqyah syariyyah bekasi 08176866747

Jumat, 23 Juni 2017

Untuk Mengatasi Marah

Untuk Mengatasi Amarah, Coba Lakukan 6 Hal Ini

Islampos / Ari Cahya Pujianto /

Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR Ahmad)

Sahabat Ummi, Ketika kita sedang emosi atau marah maka semua kesadaran kita akan terlupakan untuk beberapa saat. Dan penyesalan terjadi pada akhir karena banyak kesalahan yang kita lakukan ketika sedang marah. Baik pada setiap perkataan, sikap dan masa depan. Akibat dari marah karena tidak bisa mengendalikan diri dengan baik dan berpikir secara rasional.

Ada beberapa tipe orang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya seperti melakukan tindakan kriminal, menangis dan larut dalam kekesalan yang mendalam, dendam atau merencanakan rencana jahat kepada orang lain. Hal-hal ini sungguh merugikan diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar. Seperti keluarga dan teman yang mengenal diri kita.

Ada beberapa cara untuk mengatasi saat kita marah agar tetap sadar dan kembali serahkan semua masalah kepada Sang Pencipta, antara lain yaitu:

1. Membaca Ta’awudz

Dari sahabat Sulaiman bin Surd berkata, ”Suatu hari saya duduk bersama Rasulullah. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah bersabda, “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Diam

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Dengan memilih diam merupakan cara mujarab untuk menghindari dosa yang lebih besar.

3. Merasakan apa yang orang lain rasakan

Cobalah untuk membayangkan bila kita marah kepada orang lain. Dan menukar posisi kita saat menjadi korban. Segala perkataan yang tidak menyenangkan dan menyakiti hati orang lain. Bagaimana bila dia sedih dan kecewa kepada kita karena amarah? Bangunlah amarah yang mendidik bukan amarah yang dapat memutus tali silaturahmi.

4. Mencari akar dari masalah dan bagaimana jalan keluarnya

Tenangkan pikiran dan mencari sumber permasalahan serta jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Agar lebih mudah tulislah di kertas kosong dan menulis daftar masalah yang sedang dihadapi.

Dan bagaimana solusi terbaik yang bisa dilakukan dari masalah tersebut. Dengan berpikir tenang dapat meredakan amarah serta berusaha mencari jalan keluar yang baik. Percayalah setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

5. Jangan mau diperbudak amarah dan berusaha mengendalikan emosi

Tipe orang yang mudah marah dapat membuat orang sekitar kurang nyaman terutama dapat berpengaruh di kehidupan sosial. Bersikaplah santai dan cuek terhadapa sesuatu yang kurang penting. Buatlah tujuan hidup apa yang ingin diraih serta bagaimana caranya untuk meraih mimpi. Maka amarah yang kita keluarkan tidak terbuang percuma hanya untuk hal-hal yang kurang penting.

6. Jangan menyimpan dendam

Memaafkan itu memang sulit. Namun dengan memilih sikap memaafkan maka amarah kita akan menghilang. Apalah arti dendam di dunia ini bagi sesama manusia? Karena dengan memilih dendam maka akan bertambah satu permusuhan. Dalam menjalani hidup ini memang tidak selalu seindah yang dibayangkan. Namun dengan memaafkan berarti berkurang beban pikiran kita dalam menjalani hidup ini. Jagalah komunikasi agar keharmonisan itu selalu mengiringi baik di masa kini dan masa depan.

para pembaca Islampos yang dirahmati oleh Allah SWT, marah merupakan suatu hal yang wajar yang merupakan salah satu sifat alamiah dari manusia karena manusia mempunyai hawa nafsu, akan tetapi berdoalah kepada Allah SWT agar tetap diberi kesabaran untuk menahan amarah apalagi marah menimbulkan perpecahan antar umat dan memutus silaturahmi sehingga membuat Allah Murka, Naudzubillah.

Semoga Kita semua bisa dipertemukan kembali di Jannah (Surga) karena keridhoan Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin.[]