Rabu, 31 Mei 2017

Tentang Ruqyah

Bismillah...

Disebabkan adanya segelintir orang yg mengingkari ruqyah syar'iyyah dan mempertanyakan dalil2nya yg shahih, maka di sini saya akan sampaikan beberapa hal terkait ruqyah syar'iyyah (ruqyah yg syar'i), semoga dapat membantu siapa saja yg ingin memahaminya.

A. Disyariatkannya Ruqyah
Terdapat beberapa nash yang shahih bahwa pada awalnya Rasulullah ﷺ melarang para sahabatnya melakukan pengobatan dengan cara ruqyah, karena praktik ruqyah pada masa jahiliyah sering dicampurkan dengan praktik syirik dan sihir. Namun ketika para sahabat memperlihatkan praktik ruqyah yang bersih dari syirik dan sihir, beliau pun memberikan rukhshah, membolehkannya dan bahkan memerintahkannya.

Tentang rukhshah (keringanan) dalam ruqyah disebutkan dalam hadits berikut:
“Dari Abdurrahman bin Aswad, dari ayahnya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah ra, tentang ruqyah dari setiap (binatang) yang berbisa.’ Maka Aisyah berkata:
رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّقْيَةَ مِنْ كُلِّ ذِيْ حُمَةٍ.
‘Rasulullah ﷺ memberi rukhshah (memperbolehkan) ruqyah dari setiap (binatang) berbisa’.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Kata Rakhkhasha di dalam hadits ini menunjukkan bahwa ruqyah itu dahulu dilarang.

Imam Muslim meriwayatkan juga dalam shahihnya:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ لِيْ خَالٌ يَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ فَنَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرُّقَى, قَالَ: فَأَتَاهُ, فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى وَأَنَا أَرْقِى مِنَ الْعَقْرَبِ. فَقَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ.
Dari Jabir ra, ia berkata: “Dahulu pamanku pernah meruqyah orang yang terkena sengatan kalajengking, maka Rasulullah melarang ruqyah.” (Jabir) berkata: Kemudian pamanku itu datang kepada beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhya engkau melarang ruqyah ketika saya ingin meruqyah bisa kalajengking?” maka Nabi bersabda: “Barang siapa diantara kalian mampu untuk memberi manfaat pada saudaranya, maka lakukanlah.” (HR. Muslim)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ:رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الرُّقْيَةِ مِنْ اْلعَيْنِ وَالْحُمَةِ وَالنَّمْلَةِ.
“Dari Anas ra, ia berkata: ‘Rasulullah memberi rukhshah (memperbolehkan) ruqyah dari (penyakit) ‘Ain, bisa dan bisul.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi berkata: “ Makna hadits ini bukanlah membatasi atau mengkhususkan bolehnya ruqyah pada tiga hal tersebut saja. Namun maknanya adalah ketika Nabi ditanya tentang tiga hal tersebut, lalu beliau mengizinkannya. Dan jika beliau ditanya untuk hal yang lainnya, maka beliau akan mengizinkannya juga. Adalah beliau pernah mengizinkan ruqyah untuk selain tiga hal tersebut, dan beliau juga pernah meruqyah untuk selain tiga hal tersebut.”

Dari beberapa keterangan di atas, dapat kita pahami bahwa benar ruqyah itu dahulu pernah dilarang oleh Nabi ﷺ, yaitu ketika praktik ruqyah tersebut masih bercampur dengan unsur syirik dan sihir, seperti yang dilakukan di masa jahiliyah. Namun kemudian beliau membolehkannya setelah jelas bahwa ruqyah yang dilakukan oleh para sahabat beliau sudah bersih dari unsur-unsur syirik.

Di dalam hadits Muslim disebutkan bahwa orang-orang berkata kepada Rasulullah  ﷺ, “Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa jahiliyah pernah meruqyah.” Lalu Nabi  ﷺ bersabda:
أَعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقْيَةِ مَالَمْ تَكُنْ شِرْكًا.
“Kemukakanlah kepadaku jampi-jampi (ruqyah) kalian itu, tidaklah mengapa melakukan ruqyah selama tidak berupa kesyirikan.” (HR. Muslim dalam Kitabus Salam)

Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, juga meriwayatkan bahwa Rasulullah masuk kepadanya pada saat ada seorang wanita yang sedang diobati dan dibacakan ruqyah kepadanya. Lalu Nabi  ﷺ bersabda:
    عَالِجِيْهَا بِكِتَابِ اللهِ.
“Obatilah dengan kitab Allah.” (Dishahihkan oleh Al-Bani dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah)

Sedangkan di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Said Al-Khudri pernah bepergian bersama sejumlah sahabat nabi, kemudian mereka singgah di salah satu lembah, seraya meminta penduduk lembah tersebut agar menerima mereka sabagai tamu.
Namun penduduk lembah itu enggan menerima mereka sebagai tamu. Kemudian pemimpin penduduk itu disengat sesuatu, hingga mereka datang kepada para sahabat seraya berkata: “Apakah ada salah seorang diantara kalian yang bisa meruqyah?” Abu Said Al-Khudri berkata: “Saya bisa, tetapi saya tidak bersedia meruqyah untuk kalian sehingga kalian memberikan suatu pemberian kepada kami.” Kemudian Abu Said Al-Khudri meruqyah orang yang tersengat tersebut. Setelah diruqyah, orang itu berdiri dengan gesit seakan-akan baru lepas dari sebuah  ikatan. Kemudian mereka memberi sejumlah kambing kepada para sahabat. Ketika tiba kembali (di Madinah) mereka mengabarkannya kepada Nabi  ﷺ, lalu beliau bersabda kepada Abu Said Al-Khudri: “Dengan apa kamu meruqyahnya?” Abu Said Al-Khudri menjawab: “Dengan membaca Al-Fatihah.” Nabi  ﷺ bersabda:
وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ وَفِى لَفْظٍ, قَالَ:أَصَبْتُم اقْسِمُوْا وَاضْرِبُوْا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ. 
“Bagaimana kamu tahu bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah?.” Dalam lafazh yang lain disebutkan: Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Kalian telah berbuat benar. Sekarang, bagikanlah dan jadikan aku termasuk bersama kalian sebagai orang yang mendapatkan bagian.”
              
B. Melakukan Ruqyah Berarti Menghidupkan Sunnah
Ketika masih ada segelintir orang yang menganggap ruqyah itu sebagai perkara bid’ah atau hanya sekedar menyatakan makruh, maka kita ketahui bahwa sebenarnya mereka berbicara tanpa didasari pengetahuan yang utuh dan tanpa berlandaskan pada dalil-dalil yang bisa dipertanggung jawabkan.
Marilah sekali lagi kita cermati, bagaimana teladan Rasulullah ﷺ, para sahabat beliau dan para ulama pendahulu kita dalam hal ruqyah syar’iyyah ini:

1. Perintah Nabi Untuk Meruqyah
Dari Jabir ra, ia berkata: “Rasulullah ﷺ memberi rukhshah (keringanan) kepada keluarga Hazm untuk diruqyah (karena bisa ular), dan beliau berkata kepada Asma binti ‘Umais:
مَالِى أَرَى أَجْسَامَ بَنِىْ أَخِىْ ضَارِعَةً يُصِيْبُهُمُ الْحَاجَةُ؟ قَالَتْ: لاَ وَلَكِنَّ الْعَيْنُ تُسْرِعُ إِلَيْهِمْ فَقَالَ: أَرْقِيْهِمْ، فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ: أَرْقِيْهِمْ.
“Mengapa aku melihat tubuh anak-anak saudaraku kurus sekali, apakah ada suatu hal yang menimpa mereka?” Asma menjawab: “Bukan, tetapi penyakit ‘ain (kena mata) begitu cepat menimpa mereka.” Maka Nabi  ﷺ bersabda: “Ruqyahlah mereka,” Asma berkata: “Maka aku hadapkan mereka kepada Nabi, beliau bersabda: “Ruqyahlah mereka.” (HR. Muslim)

2. Nabi ﷺ meruqyah sahabatnya
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ قَالَ: لَمَّا اسْتَعْمَلَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى الطَّائِفِ جَعَلَ يَعْرِضُ لِيْ شَيْءٌ فِى صَلاَتِيْ حَتَّى مَا أَدْرِيْ مَا أُصَلِّى، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَالِكَ رَحَلْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ: ابْنُ أَبِى الْعَاصِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: مَا جَاءَ يِكَ؟ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَرَضَ لِيْ شَيْءٌ فِي صَلَوَاتِيْ حَتَّى مَا أَدْرِيْ مَا أُصَلِّي، قَالَ: ذَاكَ الشَّيْطَانُ، ادْنُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَجَلَسْتُ عَلَى صُدُوْرِ قَدَمَيَّ، قَالَ: فَضَرَبَ صَدْرِيْ بِيَدِهِ وَتَفَلَ فِي فَمِيْ وَقَالَ: اخْرُجْ عَدُوَّ اللهِ فَفَعَلَ ذَالِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: الْحَقْ بِعَمَلِكَ، قَالَ: فَقَالَ عُثْمَانُ فَلَعَمْرِيْ مَا أَحْسِبُهُ خَالَطَنِيْ بَعْدُ.
Utsman bin Abil ‘Ash berkata, “Ketika Rasulullah menugaskanku di Thaif, aku mengalami suatu gangguan dalam shalatku hingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku lakukan. Ketika aku menyadarinya, maka aku mendatangi Rasulullah ﷺ. Beliau menyapa, ‘Ibnu Abil ‘Ash?’ Aku menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu datang kemari?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, telah muncul sesuatu dalam shalatku hingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku kerjakan’. Beliau bersabda, ‘Itu adalah setan. Mendekatlah kepadaku.’ Lalu aku mendekat kepada beliau dan duduk diatas kedua telapak kakiku. Beliau memukul dadaku dengan tangannya dan meludah di mulutku, seraya bersabda, ‘Keluarlah wahai musuh Allah.’ Beliau melakukannya tiga kali, kemudian bersabda. ‘Lanjutkan tugasmu.’ Utsman berkata, ‘Sungguh setelah itu aku tidak pernah terkena gangguan lagi’.” (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Bani dalam sunan Ibnu Majah no.2858)

3. Sahabat nabi melakukan ruqyah
عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ قَرَأَ فِى أُذُنِ مُبْتَلَى فَأَفَاقَ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا قَرَأْتَ فِى أُذُنِهِ؟ قَالَ: قَرَأْتُ (أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا...) حَتَّى فَرَغَ مِنَ السُّوْرَةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَنَّ رَجُلاً مُوَفَّقًا قَرَأَهَا عَلَى جَبَلٍ لَزَالَ.
“Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa ia pernah membaca di telinga orang yang terkena gangguan jin lalu sembuh. Kemudian Nabi  ﷺ bertanya kepadanya, ‘Apa yang kamu baca di telinganya?’ Ibnu Mas’ud menjawab: ‘Aku baca: Afahasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsan... sampai akhir surat.’ Maka Rasulullah  ﷺ bersabda, Sekiranya ada orang yang mendapatkan taufiq membacanya kepada gunung, niscaya gunung itu akan hancur’.”
Al-Haitsami menyebutkan, di dalam sanadnya ada Ibnu Lahi’ah, padanya ada kelemahan dan haditsnya hasan. Sedangkan perawi lainnya adalah para perawi shahih. (Mazma’uz Zawaid, 5/115)

4. Para ulama melakukan ruqyah
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengisahkan, “Aku menyaksikan guruku (Ibnu Taimiyah) mengutus seseorang kepada orang yang kerasukan jin untuk berbicara kepada jin yang ada di jasadnya. Utusan itu berkata, ‘Syaikh (Ibnu Taimiyah) berkata: Keluarlah, karena hal ini tidak boleh kamu lakukan!’, lalu orang itu pun sadar.
Terkadang beliau langsung yang berbicara kepada jinnya, dan adakalanya jin itu membangkang hingga harus dikeluarkan dengan pukulan. Ketika tersadar, orang yang kerasukan itu sama sekali tidak merasakan sakit bekas pukulan tersebut. Kami bersama yang lainnya telah berulang-ulang menyaksikan beliau melakukan hal itu. Bacaan yang sering beliau perdengarkan di telinga orang yang kerasukan itu adalah: Afahasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsan wa annakum ilainaa laa turja’un.”

Di dalam kitab Thabaqaatu Ash-Haabi Al-Imam Ahmad, Al-Qadhi Abul Husain bin Al-Qadhi Abu Ya’la Al-Farra’ Al-Hambali berkata: “Aku mendengar Ahmad bin Ubaidillah berkata: Aku mendengar Abul Husain Ali bin Ahmad bin Ali Al-Akbari datang kepada kami dari Akbara pada bulan Dzul Qa’dah tahun 352 H, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku bapakku dari kakekku, ia berkata: Ketika aku berada di masjid Abu Abdullah Ahmad bin Hambal, Al-Mutawakkil mengutus seseorang kepadanya seraya memberitahukan bahwa anak perempuannya mengalami kesurupan, lalu utusan itu memohon agar beliau berdo’a kepada Allah untuk kesembuhan anak perempuan tersebut.

Kemudian Imam Ahmad mengeluarkan dua sandal kayunya dari tempat wudhu, lalu diberikan kepada utusan tersebut sambil berkata: ‘Kembalilah ke rumah Amirul Mukminin dan duduklah di sisi kepala anak perempuan tersebut, lalu katakanlah kepada jinnya: ‘Ahmad bertanya kepadamu, mana yang lebih kamu sukai, keluar dari tubuh anak perempuan ini atau dipukul tujuh puluh kali dengan sandal ini?’ Lalu utusan itu pun kembali (ke rumah Amirul Mukminin) dan melakukan apa-apa yang dipesankan oleh Imam Ahmad kepadanya.  Maka jin yang ada di tubuh anak perempuan itu berkata melalui lisannya: ‘Aku patuh dan taat kepada Imam Ahmad, seandainya beliau memerintahkan kami agar tidak tinggal di Iraq, tentu kami tidak akan tinggal di Iraq. Sungguh, beliau (Imam Ahmad) adalah orang yang taat kepada Allah sehingga Allah menjadikan segala perkara taat kepadanya’. Kemudian jin itu keluar dari jasad anak perempuan tersebut, ia pun sembuh seperti sedia kala. Bahkan di kemudian hari ia melahirkan dan dikaruniai beberapa orang anak. Namun setelah Imam Ahmad meninggal, jin itu datang lagi merasuki perempuan tersebut.

Lalu Al-Mutawakkil mengutus seseorang kepada Abu Bakar Al-Maruzzi untuk mengobatinya. Lalu Al-Maruzzi mengambil sandal dan pergi menemui perempuan itu dan memerintahkan jinnya agar keluar. Jin tersebut berkata melalui lisan perempuan itu: ‘Kami tidak akan keluar dari perempuan ini, kami tidak akan taat kepadamu. Imam Ahmad orang yang taat kepada Allah, lalu kami diperintahkan mentaatinya’.”

Wallahu a'lamu bish shawaab

*-BARAKALAHU FIIKUM*-

*-☎ Konsultasi ruqyah syar'iyyah Bekasi

📞08176866747  (WhatsApp)

Suara Adzan seorang Muadzin yg Bertuhid membuat speaker tia terbakar

*Adzan seorang Muazin yg bertauhid membuat speaker TOA terbakar*

selepas sholat maghrib saya dihampiri imam mushola Ibadurrahman yang merangkap muazin dan marbot yang bernama Sarnadi, biasa saya panggil ustdz Nadi, beliau meminta saya untuk menengok istrinya yg sedang sakit dirumahnya, saya bertanya apakah istri ustadz Nadi sudah dibawa ke dokter? dia jawab sudah dua hari yang lalu tapi kondisinya masih lemas badan panas belum ada perubahan. Kemudian saya berjanji untuk menjenguknya setelah sholat Isya.
Saya lihat istrinya sedang terbaring ditengah ruangan rumah yg sangat sederhana dengan sorot mata yang lemah dan suara yg lirih menjawab salam saya. Saya duduk disampingnya bersama Ustdz Nadi, kemudian Ustdz Nadi meminta saya untuk meruqyah istrinya, saya pun menyanggupinya, kemudian saya bertanya sama istri Ustadz Nadi apakah akhir-akhir ini suka mimpi buruk? jawab istrinya saya sering mimpi buruk. Saya minta Ustadz Nadi untuk membantu istrinya duduk dan menopangnya, kemudian saya bacakan doa-doa dan ayat-ayat Al Quran tidak lama kemudian  terlihat ada reaksi dan saya minta Ustdz nadi untuk menepuk-nepuk punggung dan dada istrinya, kemudian istrinya muntah dan bersendawa. singkat cerita dengan izin Allah malam itu istrinya Allah sembuhkan, sudah bisa berdiri, suhu badan normal dan wajah cerah seperti tidak terjadi apa-apa, Alhamdulilah
Besoknya seperti biasa kami sholat subuh berjamaah di Mushola Ibadurrahman, setelah zikir selesai Ustdz Nabi mengabari saya bahwa istrinya sudah sembuh dan mengucapkan terimakasih. Lantas beliau meminta saya untuk mengajarinya pengobatan Ruqyah Syariah. Saya minta Ustdz Nadi jangan pulang  karena saya mau ambil buku-buku Ruqyah Syariah, waktu itu saya mengotrak rumah petak disamping mushola. Akhirnya saya mengajarinya mulai dari dasar ilmu ruqyah dengan merujuk buku-buku yang saya punya. Setiap selesai sholat berjamaah saya ajari beliau sampai kira-kira tiga hari dengan durasi sekitar 15 menit saja.
sepulang saya dari Bogor setelah menjenguk orang tua, saya berpapasan dengan  Ustdz Nadi dijalan. setelah memberi salam beliau bercerita dengan ekspresi sumeringah bahwa dia sudah bisa meruqyah, dia sudah coba meruqyah anak-anak pengajian di Mushola dan anak-anak banyak yang berekasi. Beliau bilang belajar ruqyah memang gampang, Alhamdulilah sambil saya tersenyum.
Keanehan terjadi...subuhnya suara Adzan Ustadz Nadi dari speaker TOA tidak jelas hanya samar-samar  terdengar padahal rumah kontrakan saya dengan mushola sangat dekat. selesai sholat subuh kami cek peralatan sound sytem dan normal-normal saja. kemudian kami cek ke lantai  dua mushola...ternyata salah satu dari dua speaker sudah berubah arah ke arah tanah kosong, wahtu itu kami memperkirakan speaker berubah arah karena angin. kemudian kami perbaiki posisinya. Dua hari kemudian kejadian serupa terulang...kami pun mengira penyebabnya angin dan kami perbaiki posisinya kembali. Besoknya suara adzan subuh tidak terdengar sama sekali setelah kami cek ternyata speaker TOA posisinya menghadap kelangit dan penuh dengan air hujan semalam. kemudian paginya kami copot dan diturunkan dan saya bawa ke tukang service...kata tukang service speaker TOA konslet terbakar keredam Air.
Beberapa hari kemudian saya mendengar khabar dari tetangga yang melihat ada seseorang laki-laki yang dia kenal naik ke lantai dua dengan membawa galah bambu kemudian dengan bambu itu merubah-rubah posisi speaker TOA. Saya pun mengenal laki-laki itu yang rumahnya tidak jauh dari mushola dan dia seorang pemabuk dan saya juga belum pernah lihat dia sholat di mushola padahal rumahnya dekat. Tidak lama setelah itu...Laki-laki itu sakit kemudian  datang ke mushola Ibadurrahman tempat saya praktek untuk berobat minta diruqyah...Alhamdulilah.. Allah sembukah dan beri hidayah...sekarang laki-laki itu rajin sholat berjamah di mushola. Alhamdulilah.
# Kejadian sekitar tahun 2007 lalu
# salah satu ciri-ciri orang yang kena gangguan non medis dia tidak nyaman pada saat medengar suara adzan dari seorang muazin yang beriman. biasanya... bukannya siap-siap untuk sholat malahan tutup telinga tidak mau dengar , menghindar dan merasa terganggu.
#Salah satu teknik ruqyah syariah adalah si pasien di telinganya dikumandangkan Adzan
#Landasan hukumnya
No. Hadist: 3043 Shahih Bukhori
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ فَإِذَا قُضِيَ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْإِنْسَانِ وَقَلْبِهِ فَيَقُولُ اذْكُرْ كَذَا وَكَذَا حَتَّى لَا يَدْرِيَ أَثَلَاثًا صَلَّى أَمْ أَرْبَعًا فَإِذَا لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا سَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf telah bercerita kepada kami Al Awza'iy dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut agar tidak mendengar suara adzan tersebut. Apabila panggilan adzan telah selesai, maka setan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi untuk mengganggu seseorang diantara dirinya dan jiwanya seraya berkata; ingatlah ini dan itu. Hingga orang itu tidak menyadari apakah tiga atau empat raka'at shalat yang sudah dikerjakannya. Apabila dia tidak tahu tiga atau empat raka'at maka sujudlah dua kali sebagai sujud sahwi".
No. Hadist: 573 Shahih Bukhori
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."

# Rumah Seroja Indonesia
Diteruskan oleh Dpd Qhi Bekasi 08176866747

Selasa, 23 Mei 2017

Kondisi Jiwa Penyebab Penyakit

Seorang Profesor Muslim di Jepang melakukan Riset yg Mengejutkan...

1.  *maag* bukan hanya diakibatkan karena kesalahan pola makan, tapi justru lebih didominasi karena *stress*.

2. *hypertensi* bukan hanya diakibatkan oleh terlalu banyak konsumsi makanan yang asin, tapi lebih dominan karena kesalahan dalam me manage *emosi*.

3.  *kolesterol* bukan hanya diakibatkan oleh makanan berlemak, tapi rasa *malas berlebih* yang lebih dominan menimbun lemak.

4. *asthma* bukan hanya karena terganggunya suplai oksigen ke paru-paru, tapi sering merasa *sedih* yang membuat kerja paru-paru tidak stabil.

5.  *diabetes* bukan hanya karena terlalu banyak konsumsi glucousa, tapi sikap *egois dan keras kepala* yang mengganggu fungsi pankreas.

6.  penyakit *liver* bukan hanya karena kesalahan pola tidur, tapi sifat *suudzon* kepada orang lain yang justru merusak hati kita.

7. *jantung koroner* bukan hanya diakibatkan oleh sumbatan pada aliran darah ke jantung, tapi *jarang sedekah* membuat jantung kita kurang merasakan ketenangan, sehingga detaknya tidak stabil.

Faktor penyebab penyakit adalah karena masalah

- *Spiritual* 50%
- *Psikis* 25%
- *Sosial* 15%
- *Fisik*  10%

Maka benarlah firman Allah :
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah." QS: As-Syuura 42 :30-31

Jadi kalau kita ingin selalu sehat,  perbaiki diri kita,  pikiran kita,  terutama hati kita dari penyakit hati,  hasad,  hasud,  iri,  dengki,  dendam,  fitnah,  ghibah,  riya,  ujub.

🙏$emoga Bermanfa'at
Wallahu ta'alaa a'laam

Konsultasi & Terapy Ruqyah Syariyyah Bekasi
08176866747