Kamis, 21 September 2017

praktek ruqyah di bekasi

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Yaa Robbi anugerahkan keberkahan untuk kami dan keluarga kami di hari ini,
Yaa Robbi berilah jala keluar atas setiap problem yang sedang kami hadapi
Yaa Robbi jadikanlah risalah yg sedang kami baca ini, Sebagai wasilah jalan keluar atas problem kehidupan yg sedang kami hadapi
Yaa Robbi kuserahka semua urusanku kepadaMu
*RUQYAH QURANIC SOLUTION*
Sebuah upaya untuk mengenalkan terapi sunnah anabawiyah ditengah masyarakat,
Sebuah upaya mengupgrade Keimanan yg mulai terkikis karena fenomena silaunya keduniaan di di dalam diri
Ikhtiar mengikis aqidah kesyirikan menuju pemahaman Tauhid yg lurus,
Sebuah upaya mentarbiyah jiwa agar kembali kepada fitrah kehidupan
Sebuah upaya menanamkan ahlakul karimah untuk memancarkan cahaya gemilang Islam
Sebuah upaya ikhtiar lahir bathin meraih kesembuhan, Meraih kebahagian, Terlepas dari problem Kehidupan dengan Terapi Qurani
Melacak akar masalah kehidupan yg menjadi celah syetan dari bangsa jin menyusup dalam aliran darah,
Insya Allah......
*🗓Jadwal Ruqyah Rutin*
Setiap Hari Sabtu 
pukul 09. 00 pagi tepat
🏠 Alamat : Ruko *Rumah Quran Salika 2* 
jln baru Undepass no 7 
🚦kurang lebih 150 meter dari lampu merah duren jaya bekasi timur
*Persyaratan mengikuti Terapi Ruqyah*
konfirmasi kedatangan 2 hari sebelumnya 
Datang tepat waktu agar tidak tertinggal tahapan terapi yg akan di jalani
bagi wanita bersama mahromnya, membawa perlengkapan sholat
Jika memiliki azimat, Rajah, Pusaka atau pegangan apapun dengan sukarela diserahkan kepada team peruqyah untuk dimusnahkan
Memberikan infak yg terbaik untuk meraih kesembuhan Ilahi, (tidak ditentukan terserah) Yg insya Allah sebagian akan di donasikan untuk kegiatan belajar mengajar AlQuran dirumah salika, Kegiatan yayasan Ruqyah QHI 
Bersedia mengikuti acara dengan tertib
*👜Fasilitas Yg Diberikan Kepada Peserta Terapi*
1⃣. Pencerahan Jiwa, Upgrade keimanan, Tauhid, Solusi hidup
2⃣Diagnosa bersama mencari akar problem
3⃣Terapi Ruqyah Syariyyah oleh team Terapis
4⃣Akan diajarkan Teknik terapi Ruqyah secara mandiri,, membuat air ruqyah untuk minum dan mandi, Herbal ruqyah, pembentengan diri, dll
5⃣ Akan mendapatkan buku panduan materi Ruqyah Quranic solution dan buku saku dzikir pagi dan sore
6⃣akan mendapatkan sedikit minyak Hazabid (Habbatusauda, Zaitun & Bidara) yg sdh diruqyah 
7⃣Mendapatkan air mineral yg sudah kami Ruqyah plus diperdengarkan bacaan Quran 30 juz
8⃣Konsultasi gratis pasca Ruqyah
9⃣Terapi tambahan jika waktu memungkinkan dengan Teknik hydroterapi berwudhu, Dan sholat khusyu
🔟Semoga Allah memudahkan segalanya
* 🚘Ruqyah Panggilan untuk wilayah Bekasi*
Insya Allah kami akan bersilaturohim akan mengunjungi kediaman bapak/ibu untuk :
📖 Ruqyah Keluarga
📖 Ruqyah personal di kediaman bapak/ibu
📖Ruqyah Rumah
🎆Pencerahan jiwa untuk seluruh anggota keluarga
*🗒 Hari dan Waktu*
Senin - Jum'at sekitar pukul 9 pagian selesai pukul11. 30 
(Ruqyah panggilan selama wilayah bisa saya jangkau)
Untuk Ruqyah Panggilan konfirmasi 1 pekan sebelumnya
Ruqyah panggilan hari ahad tergantung jadwal kosong sa
Infak ruqyah sebagai pengganti bea transportasi grab/ bensin, Pengganti bea catak buku panduan, air mineral Ruqyah, Minyak Hazabid (habbatusauda, zaitun, Bidara) dll
🏡 Ruqyah Rumah, Ruko, Tempat usaha, Pabrik, Dll (khusus untuk rumah yg besar, pabrik, ruko 3 lantai saya mengajak team minimal 3 peruqyah tidak bisa sendiri )
🏛Bersedia mengisi acara Training pelatihan Ruqyah mandiri, Pelatihan menjadi Praktisi Ruqyah, Acara ruqyah massal, 
Untuk Masjid, Musholah, majlis ta'lim, Keluarga, Instasi pemerintah/swasta, lembaga pendidikan dll.
*Silakan Hubungi nomor whatsaap. Saya*
Alamat Terapi hari sabtu pukul 09. 00
Ruko *Rumah Quran salika 2* jln. Baru underpass no 7 150 m dari lampu merah duren jaya bekasi timur
🏠Alamat Rumah :
Perumahan Guru No 6 Blok C8 Rt 07 Rw 05 Duren Jaya Bekasi Timur (samping stasiun baru Krl Bekasi Timur/pasar baru bekasi)
*Abi Faqieh Elwastafy*
Dpd Qhi Bekasi, Praktisi Rlc, Anggota Arsy (Asosiasi Ruqyah Syariyyah Indonesia)
08176866747
*Baarakallahufikum jami'an*
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Rabu, 26 Juli 2017

HATI HATI DENGAN TIPU DAYA SYETAN

Hati-hati dengan Tipu Daya Setan

Oleh: Fahmi Mujahid
fahmimujahid12@gmail.com

 

IBNU Qayyim mengatakan dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan, “Peringatan Allah untuk mewaspadai setan lebih banyak daripada peringatannya untuk mewaspadai nafsu dan selayaknya demikian. Sebab, bahaya dan kerusakan nafsu timbul karena godaan setan. Nafsu adalah kendaraan setan, sarang kejahatannya dan tempat di mana ia ditaati.”

Para ulama tasawuf lebih sering membahas panjang lebar mengenai bahaya hawa nafsu. Tetapi, mereka kurang memperhatikan dampak dari kerusakan dari godaan setan yang berhembus ke dalam hati manusia. Setan tidak pernah lelah menggoda manusia siang maupun malam, ia terus menggoda dengan segala cara agar manusia berbuat maksiat.

Hasan Al-Basri pernah ditanya, “Wahai Imam! Apakah setan beristirahat?”Beliau menjawab, “Jikalau setan istirahat, tentu kita bisa rehat.” Kita harus sadar dengan aktivitas setan yang tidak pernah istirahat dalam menggoda manusia, supaya manusia jatuh kepada kemaksiatan dan menjadi pengikutnya di neraka.

Sejak diusirnya iblis, nenek moyang setan dari golongan jin. Ia meminta ditangguhkan kematiannya hingga hari kiamat. Kemudian iblis menyatakan perang dengan  Adam dan keturunanya, serta bertekad akan menjerumuskan manusia untuk berbuat durhaka kepada Allah Swt.

Manusia sering lalai terhadap musuhnya yang nyata ini, yakni setan. Banyak sekali penjelasan Al-Qur’an mengenai setan, bahwa ia adalah musuh yang nyata bagi manusia.

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”(Al-Baqarah: 168)

“Wahai orang-orang yang berimana! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)

Dan masih ada lagi ayat-ayat yang menyatakan, bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Seperti surat Al-An’am: 142,surat Al-Araf: 22, surat Yusuf: 5, surat Al-Kahfi: 50, surat Taha: 117, surat Al-Qasas: 15, surat Fatir: 6, surat Yasin: 60, dan surat Az-Zukhruf: 62. Maka sudah seharusnya, jadikanlah setan sebagai musuhmu dalam hidup, supayakamu bisa selamat dari tipu dayanya.

Tipu daya setan sangat halus dan tidak disadari manusia, karena ia tidak bisa dilihat dan sebaliknya setan bisa melihat manusia. Untuk itu, manusia agar selamat dari tipu daya setan, ia harus meminta perlindungan kepada Allah Swt, Zat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Dan Sudah seharusnya, manusia meminta perlindungan kepada Allah Swt.

Mintalah perlindungan kepada Allah

Sebagai hamba Allah, manusia memang harus memohon perlindungan kepada-Nya. Hanya Allah yang dapat menolong manusia dari segala macam tipu daya setan dan bala tentaranya. Ketika manusia hendak melakukan kebaikan, setan akan bersemangat untuk memalingkan manusia agar tidak melakukan kebaikan. Tetapi, jika manusia hendak melakukan kemaksiatan, setan akan mendukung dan membisikan agar manusia melakukan kemaksiatan tersebut. Oleh karena itu, tiada yang bisa dimintai pertolongan, kecuali hanyalah Allah Swt.

Contohnya, kita harus berlindung kepada Allah ketika hendak membaca Al-Qur’an.

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”(An-Nahl: 98)

Selain itu, manusia setiap kali tergoda oleh bisikan setan, maka hendaknyan ia berlindung kepada Allah Swt.

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Fussilat: 36) Di ayat yang lain

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku’.” (Al-Mu’minun: 97-98)

Manusia adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan, sehingga Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar banyak berdo’a kepada-Nya. Sungguh aneh, jika manusia memohon pertolongan kepada yang lemah (makhluk). Seharusnya, manusia maminta pertolongan kepada yang lebih kuat dan perkasa, yakni kepada Allah Swt. Dia turun ke bumi pada sepertiga malam terakhir dan membentangkan tangan-Nya, untuk mencari hamba-Nya yang memohon pertolongan.

Sudah selayaknya, manusia mewaspadai segala bisikan setan yang tersembunyi dan kejahatan yang dihembuskannya dengan senantiasa berdo’a kepada-Nya, dan menguatkan keimanan kepada Allah agar tidak jatuh ke lembah kemaksiatan. Wallahu a’lam

Kamis, 20 Juli 2017

Analisa dzikir menurut kedokteran

*ANALISA DZIKIR DARI SUDUT PANDANG ILMU KEDOKTERAN*

............DOKTER INI TERKEJUT..!!! TERNYATA DZIKIR MERUPAKAN OBAT YANG PALING MUJARAB, SUBHANALLAH.......

Dr. dr. Arman Yurisaldi Saleh, M.Kes, Sp. S dari RS Satyanegara Sunter - Jakarta (Alumni SMAN 3 Malang & S1-FK UB), menyatakan bahwa dzikir itu menyehatkan. Ia menunjukkan lewat riset pada pasiennya di mana pasien yg berdzikir pulih lebih cepat di banding dgn yg tak berzikir.

Pasien yg mengalami persoalan alzheimer & stroke, akan lebih baik keadaannya setelah membiasakan dzikir dgn melafadzkan kalimat tauhid *"Laa iIlaaha illallah "* serta kalimat istighfar *"Astaghfirullah"*.

Menurut Dr. dr. Arman, dilihat dari pengetahuan kedokteran kontemporer, pengucapan "Laa iIlaaha illallah" serta *"Astaghfirullah"* bisa menyingkirkan nyeri & dapat menumbuhkan ketenangan dan kestabilan saraf untuk pasien. Lantaran dalam ke dua bacaan dzikir itu ada huruf JAHR yg bisa mengeluarkan CO2 dari otak.

Dalam kalimat *"Laa Illaaha Illallah"* ada huruf Jahr yg diulang tujuh kali, yakni huruf *"Lam"*, serta *"Astaghfirullah"* ada huruf *"Ghayn", " Ra"*, serta dua buah *"Lam"* hingga ada 4 huruf Jahr yg mesti dilafazkan keras hingga kalimat dzikir tsb mengeluarkan karbondioksida semakin banyak waktu udara dihembuskan keluar mulut.
CO2 yg dikeluarkan oleh badan tak mengubah pergantian diameter pembuluh darah dalam otak. Sebab, bila system pengeluaran CO2 kacau, jadi CO2 yang ke luar juga kacau hingga mengakibatkan pembuluh darah di otak bakal melebar begitu terlalu berlebih saat kandungan CO2 didalam otak mengalami penurunan.

Dilihat dari tinjauan pengetahuan syaraf, ada hubungan yg erat pada pelafadzan huruf (Makharij Al-huruf) pd bacaan dzikir dgn aliran darah pernafasan keluar yg mengandung zat CO2 (karbondioksida) & system yg rumit didalam otak pd keadaan fisik atau psikis spesial.

Nah sahabatku.. mari membiasakan & memperbanyak dzikir dgn mengucapkan kalimat tauhid *"Laa iIlaaha illallah"* & kalimat istighfar *"Astaghfirullah"*.

Mohon disebarkan informasi ini, mudah2an  dapat menzikirkan masyarakat dan memasyarakat zikir baik pada sahabat2 yg kena stroke upaya kuratif maupun yg tdk kena stroke sbagai upaya preventif.....

Kamis, 29 Juni 2017

SEPULUH AKIBAT BERBUAT MAKSIAT

10 Akibat Berbuat Maksiat

Islampos / Saad Saefullah 

“Dan musibah apapun yang meimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri,” (QS. As-Syuura : 30)

SAAT ini banyak sekali macam-macam penyakit yang ada di masyarakat dan di antaranya bahkan sangat sulit disembuhkan. Nama-nama penyakitnya pun aneh dan beragam. Ada penyakit flu babi, flu burung, dan lainnya. Ada biang penyakit dan wabah yang telah dilalaikan oleh manusia secara umum, dan kebanyakan kaum muslimin secara khusus. Biang penyakit tersebut adalah maksiat.

Telah banyak dalil, baik dari al-Qur’an dan As-Sunnah, serta dari berbagai fakta di alam semesta, yang menunjukkan bahwa kemaksiatan adalah salah satu penyebab terjadinya berbagai petaka dan penyakit. Allah SWT. berfirman: “Dan sungguh-sungguh Kami akan menimpakan adzab kecil (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajdah: 21).

Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan adzab dekat (kecil) ialah berbagai musibah yang terjadi di dunia, penyakit dan petaka yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya, agar mereka bertaubat.” Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kejelekan, niscaya ia akan diberi balasan dengannya.” (QS. An-Nisa’ : 123)

Qatadah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa tidaklah ada seorang yang tergores oleh ranting, atau terkilir kakinya atau terpelintir uratnya, melainkan akibat dari dosa yang ia perbuat.”

Pada suatu hari ada seorang yang bertanya kepada sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas di hadapan sahabat Usamah bin Zaid tentang penyakit (wabah) tha’un, maka sahabat Usamah bin Zaid mengabarkan bahwa Rasulullah SAW. pernah menjelaskan tentang hal itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya penyakit ini adalah kotoran yang dengannya Allah mengadzab sebagian umat sebelum kalian, kemudian tersisa di bumi, kadangkala ia hilang dan kadangkala ia datang kembali.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Tidak mengherankan bila Nabi SAW. menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari setiap musibah yang menimpa seorang muslim ialah untuk menghapuskan kesalahan dan dosanya. “Tidaklah seorang muslim ditimpa rasa letih, rasa sakit, gundah pikiran, rasa duka, gangguan dan kebingungan sampai-sampai duri yang menusuknya, melainkan akan Allah hapuskan sebagian dari kesalahannya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Qayim al-Jauziyah mengatakan, “Perbuatan maksiat adalah faktor terbesar yang menghapus barakah usia, rezeki, ilmu, dan amal. Setiap waktu, harta, fisik, kedudukan, ilmu, dan amal yang Anda gunakan untuk maksiat kepada-Nya, maka sebenarnya semua bukan milik Anda. Usia, harta, kekuatan, kedudukan, ilmu, dan amal yang merupakan milik Anda sebenarnya adalah yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah.”

Selanjutnya, Ibnu Qayim lebih lanjut menerangkan akibat-akibat dari berbuat maksiat ini secara terperinci. Ini rangkumannya:

1-Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata, “Aku melihat Allah Swt telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”

2- Maksiat Menghalangi Rezeki

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki. Maka meninggalkannya berarti menimbulkan kefakiran. “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya” (HR. Ahmad).

3- Maksiat Menimbulkan Jarak Dengan Allah Swt

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa diatas dosa.”

4- Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain

Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri.

Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah Swt, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

5- Maksiat Menyulitkan Urusan

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Maksiat Menggelapkan Hati Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita.

Ibnu Abbas ra berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rizki dan kebencian makhluk.”

6- Maksiat Melemahkan Hati dan Badan

Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat maka kuatlah badannya. Tapi bagi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah jika kekuatan itu sedang dia butuhkan, hingga kekuatan pada dirinya sering menipu dirinya sendiri. Lihatlah bagaimana kekuatan fisik dan hati kaum muslimin yang telah mengalahkan kekuatan fisik bangsa Persia dan Romawi.

7-Maksiat Menghalangi Ketaatan

Orang yang melakukan dosa dan maksiat akan cenderung untuk memutuskan ketaatan. Seperti selayaknya orang yang satu kali makan tetapi mengalami sakit berkepanjangan dan menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik.

8- Maksiat Memperpendek Umur dan Menghapus Keberkahan

Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Sementara itu tak ada yang namanya hidup kecuali jika kehidupan itu dihabiskan dengan ketaatan, ibadah, cinta dan dzikir kepada Allah serta mementingkan keridhaan-Nya.

9- Maksiat Menumbuhkan Maksiat Lain

Seorang ulama Salaf berkata, bahwa jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorong dia untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi si pelaku.

10- Maksiat Mematikan Bisikan Hati Nurani

Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan dan sebaliknya akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan untuk bertobat. Inilah yang akan menjadi penyakit hati yang paling besar. []

Dari islampos dipublish oleh QhI ruqyah syariyyah bekasi 08176866747

Jumat, 23 Juni 2017

Untuk Mengatasi Marah

Untuk Mengatasi Amarah, Coba Lakukan 6 Hal Ini

Islampos / Ari Cahya Pujianto /

Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR Ahmad)

Sahabat Ummi, Ketika kita sedang emosi atau marah maka semua kesadaran kita akan terlupakan untuk beberapa saat. Dan penyesalan terjadi pada akhir karena banyak kesalahan yang kita lakukan ketika sedang marah. Baik pada setiap perkataan, sikap dan masa depan. Akibat dari marah karena tidak bisa mengendalikan diri dengan baik dan berpikir secara rasional.

Ada beberapa tipe orang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya seperti melakukan tindakan kriminal, menangis dan larut dalam kekesalan yang mendalam, dendam atau merencanakan rencana jahat kepada orang lain. Hal-hal ini sungguh merugikan diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar. Seperti keluarga dan teman yang mengenal diri kita.

Ada beberapa cara untuk mengatasi saat kita marah agar tetap sadar dan kembali serahkan semua masalah kepada Sang Pencipta, antara lain yaitu:

1. Membaca Ta’awudz

Dari sahabat Sulaiman bin Surd berkata, ”Suatu hari saya duduk bersama Rasulullah. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah bersabda, “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Diam

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Dengan memilih diam merupakan cara mujarab untuk menghindari dosa yang lebih besar.

3. Merasakan apa yang orang lain rasakan

Cobalah untuk membayangkan bila kita marah kepada orang lain. Dan menukar posisi kita saat menjadi korban. Segala perkataan yang tidak menyenangkan dan menyakiti hati orang lain. Bagaimana bila dia sedih dan kecewa kepada kita karena amarah? Bangunlah amarah yang mendidik bukan amarah yang dapat memutus tali silaturahmi.

4. Mencari akar dari masalah dan bagaimana jalan keluarnya

Tenangkan pikiran dan mencari sumber permasalahan serta jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Agar lebih mudah tulislah di kertas kosong dan menulis daftar masalah yang sedang dihadapi.

Dan bagaimana solusi terbaik yang bisa dilakukan dari masalah tersebut. Dengan berpikir tenang dapat meredakan amarah serta berusaha mencari jalan keluar yang baik. Percayalah setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

5. Jangan mau diperbudak amarah dan berusaha mengendalikan emosi

Tipe orang yang mudah marah dapat membuat orang sekitar kurang nyaman terutama dapat berpengaruh di kehidupan sosial. Bersikaplah santai dan cuek terhadapa sesuatu yang kurang penting. Buatlah tujuan hidup apa yang ingin diraih serta bagaimana caranya untuk meraih mimpi. Maka amarah yang kita keluarkan tidak terbuang percuma hanya untuk hal-hal yang kurang penting.

6. Jangan menyimpan dendam

Memaafkan itu memang sulit. Namun dengan memilih sikap memaafkan maka amarah kita akan menghilang. Apalah arti dendam di dunia ini bagi sesama manusia? Karena dengan memilih dendam maka akan bertambah satu permusuhan. Dalam menjalani hidup ini memang tidak selalu seindah yang dibayangkan. Namun dengan memaafkan berarti berkurang beban pikiran kita dalam menjalani hidup ini. Jagalah komunikasi agar keharmonisan itu selalu mengiringi baik di masa kini dan masa depan.

para pembaca Islampos yang dirahmati oleh Allah SWT, marah merupakan suatu hal yang wajar yang merupakan salah satu sifat alamiah dari manusia karena manusia mempunyai hawa nafsu, akan tetapi berdoalah kepada Allah SWT agar tetap diberi kesabaran untuk menahan amarah apalagi marah menimbulkan perpecahan antar umat dan memutus silaturahmi sehingga membuat Allah Murka, Naudzubillah.

Semoga Kita semua bisa dipertemukan kembali di Jannah (Surga) karena keridhoan Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin.[]

Rabu, 31 Mei 2017

Tentang Ruqyah

Bismillah...

Disebabkan adanya segelintir orang yg mengingkari ruqyah syar'iyyah dan mempertanyakan dalil2nya yg shahih, maka di sini saya akan sampaikan beberapa hal terkait ruqyah syar'iyyah (ruqyah yg syar'i), semoga dapat membantu siapa saja yg ingin memahaminya.

A. Disyariatkannya Ruqyah
Terdapat beberapa nash yang shahih bahwa pada awalnya Rasulullah ﷺ melarang para sahabatnya melakukan pengobatan dengan cara ruqyah, karena praktik ruqyah pada masa jahiliyah sering dicampurkan dengan praktik syirik dan sihir. Namun ketika para sahabat memperlihatkan praktik ruqyah yang bersih dari syirik dan sihir, beliau pun memberikan rukhshah, membolehkannya dan bahkan memerintahkannya.

Tentang rukhshah (keringanan) dalam ruqyah disebutkan dalam hadits berikut:
“Dari Abdurrahman bin Aswad, dari ayahnya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah ra, tentang ruqyah dari setiap (binatang) yang berbisa.’ Maka Aisyah berkata:
رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّقْيَةَ مِنْ كُلِّ ذِيْ حُمَةٍ.
‘Rasulullah ﷺ memberi rukhshah (memperbolehkan) ruqyah dari setiap (binatang) berbisa’.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Kata Rakhkhasha di dalam hadits ini menunjukkan bahwa ruqyah itu dahulu dilarang.

Imam Muslim meriwayatkan juga dalam shahihnya:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ لِيْ خَالٌ يَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ فَنَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرُّقَى, قَالَ: فَأَتَاهُ, فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى وَأَنَا أَرْقِى مِنَ الْعَقْرَبِ. فَقَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ.
Dari Jabir ra, ia berkata: “Dahulu pamanku pernah meruqyah orang yang terkena sengatan kalajengking, maka Rasulullah melarang ruqyah.” (Jabir) berkata: Kemudian pamanku itu datang kepada beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhya engkau melarang ruqyah ketika saya ingin meruqyah bisa kalajengking?” maka Nabi bersabda: “Barang siapa diantara kalian mampu untuk memberi manfaat pada saudaranya, maka lakukanlah.” (HR. Muslim)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ:رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الرُّقْيَةِ مِنْ اْلعَيْنِ وَالْحُمَةِ وَالنَّمْلَةِ.
“Dari Anas ra, ia berkata: ‘Rasulullah memberi rukhshah (memperbolehkan) ruqyah dari (penyakit) ‘Ain, bisa dan bisul.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi berkata: “ Makna hadits ini bukanlah membatasi atau mengkhususkan bolehnya ruqyah pada tiga hal tersebut saja. Namun maknanya adalah ketika Nabi ditanya tentang tiga hal tersebut, lalu beliau mengizinkannya. Dan jika beliau ditanya untuk hal yang lainnya, maka beliau akan mengizinkannya juga. Adalah beliau pernah mengizinkan ruqyah untuk selain tiga hal tersebut, dan beliau juga pernah meruqyah untuk selain tiga hal tersebut.”

Dari beberapa keterangan di atas, dapat kita pahami bahwa benar ruqyah itu dahulu pernah dilarang oleh Nabi ﷺ, yaitu ketika praktik ruqyah tersebut masih bercampur dengan unsur syirik dan sihir, seperti yang dilakukan di masa jahiliyah. Namun kemudian beliau membolehkannya setelah jelas bahwa ruqyah yang dilakukan oleh para sahabat beliau sudah bersih dari unsur-unsur syirik.

Di dalam hadits Muslim disebutkan bahwa orang-orang berkata kepada Rasulullah  ﷺ, “Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa jahiliyah pernah meruqyah.” Lalu Nabi  ﷺ bersabda:
أَعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقْيَةِ مَالَمْ تَكُنْ شِرْكًا.
“Kemukakanlah kepadaku jampi-jampi (ruqyah) kalian itu, tidaklah mengapa melakukan ruqyah selama tidak berupa kesyirikan.” (HR. Muslim dalam Kitabus Salam)

Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, juga meriwayatkan bahwa Rasulullah masuk kepadanya pada saat ada seorang wanita yang sedang diobati dan dibacakan ruqyah kepadanya. Lalu Nabi  ﷺ bersabda:
    عَالِجِيْهَا بِكِتَابِ اللهِ.
“Obatilah dengan kitab Allah.” (Dishahihkan oleh Al-Bani dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah)

Sedangkan di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Said Al-Khudri pernah bepergian bersama sejumlah sahabat nabi, kemudian mereka singgah di salah satu lembah, seraya meminta penduduk lembah tersebut agar menerima mereka sabagai tamu.
Namun penduduk lembah itu enggan menerima mereka sebagai tamu. Kemudian pemimpin penduduk itu disengat sesuatu, hingga mereka datang kepada para sahabat seraya berkata: “Apakah ada salah seorang diantara kalian yang bisa meruqyah?” Abu Said Al-Khudri berkata: “Saya bisa, tetapi saya tidak bersedia meruqyah untuk kalian sehingga kalian memberikan suatu pemberian kepada kami.” Kemudian Abu Said Al-Khudri meruqyah orang yang tersengat tersebut. Setelah diruqyah, orang itu berdiri dengan gesit seakan-akan baru lepas dari sebuah  ikatan. Kemudian mereka memberi sejumlah kambing kepada para sahabat. Ketika tiba kembali (di Madinah) mereka mengabarkannya kepada Nabi  ﷺ, lalu beliau bersabda kepada Abu Said Al-Khudri: “Dengan apa kamu meruqyahnya?” Abu Said Al-Khudri menjawab: “Dengan membaca Al-Fatihah.” Nabi  ﷺ bersabda:
وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ وَفِى لَفْظٍ, قَالَ:أَصَبْتُم اقْسِمُوْا وَاضْرِبُوْا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ. 
“Bagaimana kamu tahu bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah?.” Dalam lafazh yang lain disebutkan: Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Kalian telah berbuat benar. Sekarang, bagikanlah dan jadikan aku termasuk bersama kalian sebagai orang yang mendapatkan bagian.”
              
B. Melakukan Ruqyah Berarti Menghidupkan Sunnah
Ketika masih ada segelintir orang yang menganggap ruqyah itu sebagai perkara bid’ah atau hanya sekedar menyatakan makruh, maka kita ketahui bahwa sebenarnya mereka berbicara tanpa didasari pengetahuan yang utuh dan tanpa berlandaskan pada dalil-dalil yang bisa dipertanggung jawabkan.
Marilah sekali lagi kita cermati, bagaimana teladan Rasulullah ﷺ, para sahabat beliau dan para ulama pendahulu kita dalam hal ruqyah syar’iyyah ini:

1. Perintah Nabi Untuk Meruqyah
Dari Jabir ra, ia berkata: “Rasulullah ﷺ memberi rukhshah (keringanan) kepada keluarga Hazm untuk diruqyah (karena bisa ular), dan beliau berkata kepada Asma binti ‘Umais:
مَالِى أَرَى أَجْسَامَ بَنِىْ أَخِىْ ضَارِعَةً يُصِيْبُهُمُ الْحَاجَةُ؟ قَالَتْ: لاَ وَلَكِنَّ الْعَيْنُ تُسْرِعُ إِلَيْهِمْ فَقَالَ: أَرْقِيْهِمْ، فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ: أَرْقِيْهِمْ.
“Mengapa aku melihat tubuh anak-anak saudaraku kurus sekali, apakah ada suatu hal yang menimpa mereka?” Asma menjawab: “Bukan, tetapi penyakit ‘ain (kena mata) begitu cepat menimpa mereka.” Maka Nabi  ﷺ bersabda: “Ruqyahlah mereka,” Asma berkata: “Maka aku hadapkan mereka kepada Nabi, beliau bersabda: “Ruqyahlah mereka.” (HR. Muslim)

2. Nabi ﷺ meruqyah sahabatnya
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ قَالَ: لَمَّا اسْتَعْمَلَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى الطَّائِفِ جَعَلَ يَعْرِضُ لِيْ شَيْءٌ فِى صَلاَتِيْ حَتَّى مَا أَدْرِيْ مَا أُصَلِّى، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَالِكَ رَحَلْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ: ابْنُ أَبِى الْعَاصِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: مَا جَاءَ يِكَ؟ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَرَضَ لِيْ شَيْءٌ فِي صَلَوَاتِيْ حَتَّى مَا أَدْرِيْ مَا أُصَلِّي، قَالَ: ذَاكَ الشَّيْطَانُ، ادْنُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَجَلَسْتُ عَلَى صُدُوْرِ قَدَمَيَّ، قَالَ: فَضَرَبَ صَدْرِيْ بِيَدِهِ وَتَفَلَ فِي فَمِيْ وَقَالَ: اخْرُجْ عَدُوَّ اللهِ فَفَعَلَ ذَالِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: الْحَقْ بِعَمَلِكَ، قَالَ: فَقَالَ عُثْمَانُ فَلَعَمْرِيْ مَا أَحْسِبُهُ خَالَطَنِيْ بَعْدُ.
Utsman bin Abil ‘Ash berkata, “Ketika Rasulullah menugaskanku di Thaif, aku mengalami suatu gangguan dalam shalatku hingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku lakukan. Ketika aku menyadarinya, maka aku mendatangi Rasulullah ﷺ. Beliau menyapa, ‘Ibnu Abil ‘Ash?’ Aku menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu datang kemari?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, telah muncul sesuatu dalam shalatku hingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku kerjakan’. Beliau bersabda, ‘Itu adalah setan. Mendekatlah kepadaku.’ Lalu aku mendekat kepada beliau dan duduk diatas kedua telapak kakiku. Beliau memukul dadaku dengan tangannya dan meludah di mulutku, seraya bersabda, ‘Keluarlah wahai musuh Allah.’ Beliau melakukannya tiga kali, kemudian bersabda. ‘Lanjutkan tugasmu.’ Utsman berkata, ‘Sungguh setelah itu aku tidak pernah terkena gangguan lagi’.” (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Bani dalam sunan Ibnu Majah no.2858)

3. Sahabat nabi melakukan ruqyah
عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ قَرَأَ فِى أُذُنِ مُبْتَلَى فَأَفَاقَ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا قَرَأْتَ فِى أُذُنِهِ؟ قَالَ: قَرَأْتُ (أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا...) حَتَّى فَرَغَ مِنَ السُّوْرَةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَنَّ رَجُلاً مُوَفَّقًا قَرَأَهَا عَلَى جَبَلٍ لَزَالَ.
“Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa ia pernah membaca di telinga orang yang terkena gangguan jin lalu sembuh. Kemudian Nabi  ﷺ bertanya kepadanya, ‘Apa yang kamu baca di telinganya?’ Ibnu Mas’ud menjawab: ‘Aku baca: Afahasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsan... sampai akhir surat.’ Maka Rasulullah  ﷺ bersabda, Sekiranya ada orang yang mendapatkan taufiq membacanya kepada gunung, niscaya gunung itu akan hancur’.”
Al-Haitsami menyebutkan, di dalam sanadnya ada Ibnu Lahi’ah, padanya ada kelemahan dan haditsnya hasan. Sedangkan perawi lainnya adalah para perawi shahih. (Mazma’uz Zawaid, 5/115)

4. Para ulama melakukan ruqyah
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengisahkan, “Aku menyaksikan guruku (Ibnu Taimiyah) mengutus seseorang kepada orang yang kerasukan jin untuk berbicara kepada jin yang ada di jasadnya. Utusan itu berkata, ‘Syaikh (Ibnu Taimiyah) berkata: Keluarlah, karena hal ini tidak boleh kamu lakukan!’, lalu orang itu pun sadar.
Terkadang beliau langsung yang berbicara kepada jinnya, dan adakalanya jin itu membangkang hingga harus dikeluarkan dengan pukulan. Ketika tersadar, orang yang kerasukan itu sama sekali tidak merasakan sakit bekas pukulan tersebut. Kami bersama yang lainnya telah berulang-ulang menyaksikan beliau melakukan hal itu. Bacaan yang sering beliau perdengarkan di telinga orang yang kerasukan itu adalah: Afahasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsan wa annakum ilainaa laa turja’un.”

Di dalam kitab Thabaqaatu Ash-Haabi Al-Imam Ahmad, Al-Qadhi Abul Husain bin Al-Qadhi Abu Ya’la Al-Farra’ Al-Hambali berkata: “Aku mendengar Ahmad bin Ubaidillah berkata: Aku mendengar Abul Husain Ali bin Ahmad bin Ali Al-Akbari datang kepada kami dari Akbara pada bulan Dzul Qa’dah tahun 352 H, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku bapakku dari kakekku, ia berkata: Ketika aku berada di masjid Abu Abdullah Ahmad bin Hambal, Al-Mutawakkil mengutus seseorang kepadanya seraya memberitahukan bahwa anak perempuannya mengalami kesurupan, lalu utusan itu memohon agar beliau berdo’a kepada Allah untuk kesembuhan anak perempuan tersebut.

Kemudian Imam Ahmad mengeluarkan dua sandal kayunya dari tempat wudhu, lalu diberikan kepada utusan tersebut sambil berkata: ‘Kembalilah ke rumah Amirul Mukminin dan duduklah di sisi kepala anak perempuan tersebut, lalu katakanlah kepada jinnya: ‘Ahmad bertanya kepadamu, mana yang lebih kamu sukai, keluar dari tubuh anak perempuan ini atau dipukul tujuh puluh kali dengan sandal ini?’ Lalu utusan itu pun kembali (ke rumah Amirul Mukminin) dan melakukan apa-apa yang dipesankan oleh Imam Ahmad kepadanya.  Maka jin yang ada di tubuh anak perempuan itu berkata melalui lisannya: ‘Aku patuh dan taat kepada Imam Ahmad, seandainya beliau memerintahkan kami agar tidak tinggal di Iraq, tentu kami tidak akan tinggal di Iraq. Sungguh, beliau (Imam Ahmad) adalah orang yang taat kepada Allah sehingga Allah menjadikan segala perkara taat kepadanya’. Kemudian jin itu keluar dari jasad anak perempuan tersebut, ia pun sembuh seperti sedia kala. Bahkan di kemudian hari ia melahirkan dan dikaruniai beberapa orang anak. Namun setelah Imam Ahmad meninggal, jin itu datang lagi merasuki perempuan tersebut.

Lalu Al-Mutawakkil mengutus seseorang kepada Abu Bakar Al-Maruzzi untuk mengobatinya. Lalu Al-Maruzzi mengambil sandal dan pergi menemui perempuan itu dan memerintahkan jinnya agar keluar. Jin tersebut berkata melalui lisan perempuan itu: ‘Kami tidak akan keluar dari perempuan ini, kami tidak akan taat kepadamu. Imam Ahmad orang yang taat kepada Allah, lalu kami diperintahkan mentaatinya’.”

Wallahu a'lamu bish shawaab

*-BARAKALAHU FIIKUM*-

*-☎ Konsultasi ruqyah syar'iyyah Bekasi

📞08176866747  (WhatsApp)

Suara Adzan seorang Muadzin yg Bertuhid membuat speaker tia terbakar

*Adzan seorang Muazin yg bertauhid membuat speaker TOA terbakar*

selepas sholat maghrib saya dihampiri imam mushola Ibadurrahman yang merangkap muazin dan marbot yang bernama Sarnadi, biasa saya panggil ustdz Nadi, beliau meminta saya untuk menengok istrinya yg sedang sakit dirumahnya, saya bertanya apakah istri ustadz Nadi sudah dibawa ke dokter? dia jawab sudah dua hari yang lalu tapi kondisinya masih lemas badan panas belum ada perubahan. Kemudian saya berjanji untuk menjenguknya setelah sholat Isya.
Saya lihat istrinya sedang terbaring ditengah ruangan rumah yg sangat sederhana dengan sorot mata yang lemah dan suara yg lirih menjawab salam saya. Saya duduk disampingnya bersama Ustdz Nadi, kemudian Ustdz Nadi meminta saya untuk meruqyah istrinya, saya pun menyanggupinya, kemudian saya bertanya sama istri Ustadz Nadi apakah akhir-akhir ini suka mimpi buruk? jawab istrinya saya sering mimpi buruk. Saya minta Ustadz Nadi untuk membantu istrinya duduk dan menopangnya, kemudian saya bacakan doa-doa dan ayat-ayat Al Quran tidak lama kemudian  terlihat ada reaksi dan saya minta Ustdz nadi untuk menepuk-nepuk punggung dan dada istrinya, kemudian istrinya muntah dan bersendawa. singkat cerita dengan izin Allah malam itu istrinya Allah sembuhkan, sudah bisa berdiri, suhu badan normal dan wajah cerah seperti tidak terjadi apa-apa, Alhamdulilah
Besoknya seperti biasa kami sholat subuh berjamaah di Mushola Ibadurrahman, setelah zikir selesai Ustdz Nabi mengabari saya bahwa istrinya sudah sembuh dan mengucapkan terimakasih. Lantas beliau meminta saya untuk mengajarinya pengobatan Ruqyah Syariah. Saya minta Ustdz Nadi jangan pulang  karena saya mau ambil buku-buku Ruqyah Syariah, waktu itu saya mengotrak rumah petak disamping mushola. Akhirnya saya mengajarinya mulai dari dasar ilmu ruqyah dengan merujuk buku-buku yang saya punya. Setiap selesai sholat berjamaah saya ajari beliau sampai kira-kira tiga hari dengan durasi sekitar 15 menit saja.
sepulang saya dari Bogor setelah menjenguk orang tua, saya berpapasan dengan  Ustdz Nadi dijalan. setelah memberi salam beliau bercerita dengan ekspresi sumeringah bahwa dia sudah bisa meruqyah, dia sudah coba meruqyah anak-anak pengajian di Mushola dan anak-anak banyak yang berekasi. Beliau bilang belajar ruqyah memang gampang, Alhamdulilah sambil saya tersenyum.
Keanehan terjadi...subuhnya suara Adzan Ustadz Nadi dari speaker TOA tidak jelas hanya samar-samar  terdengar padahal rumah kontrakan saya dengan mushola sangat dekat. selesai sholat subuh kami cek peralatan sound sytem dan normal-normal saja. kemudian kami cek ke lantai  dua mushola...ternyata salah satu dari dua speaker sudah berubah arah ke arah tanah kosong, wahtu itu kami memperkirakan speaker berubah arah karena angin. kemudian kami perbaiki posisinya. Dua hari kemudian kejadian serupa terulang...kami pun mengira penyebabnya angin dan kami perbaiki posisinya kembali. Besoknya suara adzan subuh tidak terdengar sama sekali setelah kami cek ternyata speaker TOA posisinya menghadap kelangit dan penuh dengan air hujan semalam. kemudian paginya kami copot dan diturunkan dan saya bawa ke tukang service...kata tukang service speaker TOA konslet terbakar keredam Air.
Beberapa hari kemudian saya mendengar khabar dari tetangga yang melihat ada seseorang laki-laki yang dia kenal naik ke lantai dua dengan membawa galah bambu kemudian dengan bambu itu merubah-rubah posisi speaker TOA. Saya pun mengenal laki-laki itu yang rumahnya tidak jauh dari mushola dan dia seorang pemabuk dan saya juga belum pernah lihat dia sholat di mushola padahal rumahnya dekat. Tidak lama setelah itu...Laki-laki itu sakit kemudian  datang ke mushola Ibadurrahman tempat saya praktek untuk berobat minta diruqyah...Alhamdulilah.. Allah sembukah dan beri hidayah...sekarang laki-laki itu rajin sholat berjamah di mushola. Alhamdulilah.
# Kejadian sekitar tahun 2007 lalu
# salah satu ciri-ciri orang yang kena gangguan non medis dia tidak nyaman pada saat medengar suara adzan dari seorang muazin yang beriman. biasanya... bukannya siap-siap untuk sholat malahan tutup telinga tidak mau dengar , menghindar dan merasa terganggu.
#Salah satu teknik ruqyah syariah adalah si pasien di telinganya dikumandangkan Adzan
#Landasan hukumnya
No. Hadist: 3043 Shahih Bukhori
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ فَإِذَا قُضِيَ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْإِنْسَانِ وَقَلْبِهِ فَيَقُولُ اذْكُرْ كَذَا وَكَذَا حَتَّى لَا يَدْرِيَ أَثَلَاثًا صَلَّى أَمْ أَرْبَعًا فَإِذَا لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا سَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf telah bercerita kepada kami Al Awza'iy dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut agar tidak mendengar suara adzan tersebut. Apabila panggilan adzan telah selesai, maka setan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi untuk mengganggu seseorang diantara dirinya dan jiwanya seraya berkata; ingatlah ini dan itu. Hingga orang itu tidak menyadari apakah tiga atau empat raka'at shalat yang sudah dikerjakannya. Apabila dia tidak tahu tiga atau empat raka'at maka sujudlah dua kali sebagai sujud sahwi".
No. Hadist: 573 Shahih Bukhori
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."

# Rumah Seroja Indonesia
Diteruskan oleh Dpd Qhi Bekasi 08176866747

Selasa, 23 Mei 2017

Kondisi Jiwa Penyebab Penyakit

Seorang Profesor Muslim di Jepang melakukan Riset yg Mengejutkan...

1.  *maag* bukan hanya diakibatkan karena kesalahan pola makan, tapi justru lebih didominasi karena *stress*.

2. *hypertensi* bukan hanya diakibatkan oleh terlalu banyak konsumsi makanan yang asin, tapi lebih dominan karena kesalahan dalam me manage *emosi*.

3.  *kolesterol* bukan hanya diakibatkan oleh makanan berlemak, tapi rasa *malas berlebih* yang lebih dominan menimbun lemak.

4. *asthma* bukan hanya karena terganggunya suplai oksigen ke paru-paru, tapi sering merasa *sedih* yang membuat kerja paru-paru tidak stabil.

5.  *diabetes* bukan hanya karena terlalu banyak konsumsi glucousa, tapi sikap *egois dan keras kepala* yang mengganggu fungsi pankreas.

6.  penyakit *liver* bukan hanya karena kesalahan pola tidur, tapi sifat *suudzon* kepada orang lain yang justru merusak hati kita.

7. *jantung koroner* bukan hanya diakibatkan oleh sumbatan pada aliran darah ke jantung, tapi *jarang sedekah* membuat jantung kita kurang merasakan ketenangan, sehingga detaknya tidak stabil.

Faktor penyebab penyakit adalah karena masalah

- *Spiritual* 50%
- *Psikis* 25%
- *Sosial* 15%
- *Fisik*  10%

Maka benarlah firman Allah :
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah." QS: As-Syuura 42 :30-31

Jadi kalau kita ingin selalu sehat,  perbaiki diri kita,  pikiran kita,  terutama hati kita dari penyakit hati,  hasad,  hasud,  iri,  dengki,  dendam,  fitnah,  ghibah,  riya,  ujub.

🙏$emoga Bermanfa'at
Wallahu ta'alaa a'laam

Konsultasi & Terapy Ruqyah Syariyyah Bekasi
08176866747

Selasa, 25 April 2017

Hukum. Minta Rukyah

HUKUM MINTA DI RUQYAH
***********************************

Rosulullah SAW mengatakan bahwa pada umatnya terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Lalu beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Sebagian sahabat berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Rosulullah SAW”. Sedangkan sebagian yang lain berkata, “Barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan pada masa Islam. Sehingga mereka tak pernah berbuat syirik kepada Allah sedikitpun".

Berikutnya mereka menyebutkan beberapa kemungkinan yang lain.Mereka memberitahukan perkaranya kepada Rosulullah SAW tatkala beliau keluar. Maka beliau bersabda :

هُمُ الَّذِيْنَ لَا يَسْتَرْقُوْنَ وَلَا يَكْتَوُوْنَ وَلَا يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, tidak bertathayyur dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka”.

Dalam hadits itu Nabi Muhammad SAW menyebutkan golongan yang masuk surga tanpa hisab dan adzab. Mereka itu adalah orang-orang yang :

A. Tidak minta diruqyah.

Demikianlah yang ada dalam shahihain. Juga pada hadits Ibnu Mas'udradhiyallâhu'anhu dalam musnad Imam Ahmad rahimahullâh. Sedangkan dalam riwayat Imam Muslim (وَلاَ يَرْقُوْنَ ) artinya yang tidak meruqyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

"Ini merupakan lafadz tambahan dari prasangka rawi dan Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tidak bersabda (وَلاَ يَرْقُوْنَ ) karena Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pernah ditanya tentang ruqyah, lalu beliau menjawab :

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ

“Barangsiapa diantara kalian mampu memberi manfaat kepada saudaranya, maka berilah padanya manfaat" (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dari Jabir)

dan bersabda :

لَابَاْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا

"Boleh menggunakan ruqyah selama tidak terjadi kesyirikan padanya." (HR. Muslim, Abu Daud dari Sahabat Auf bin Malik)

Ditambah lagi dengan amalan Jibril 'alaihissalam yang meruqyah Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam meruqyah shahabat-shahabatnya. Beliaupun menjelaskan perbedaan antara orang yang meruqyah dengan orang yang meminta diruqyah :

"Mustarqi (orang yang meminta diruqyah) adalah orang yang minta diobati, dan hatinya sedikit berpaling kepada selain Allâh. Hal ini akan mengurangi nilai tawakkalnya kepada Allâh. Sedangkan arrâqi (orang yang meruqyah) adalah orang yang berbuat baik".

Beliau berkata pula :

"Dan yang dimaksud sifat golongan yang termasuk 70 ribu itu adalah tidak meruqyah karena kesempurnaan tawakkal mereka kepada Allâh dan tidak meminta kepada selain mereka untuk meruqyahnya serta tidak pula minta di kay." Demikian pula hal ini disampaikan Ibnul Qayyim.

B. Tidak Minta di kay (وَلاَ يَكْتَوُوْنَ)

Mereka tidak minta kepada orang lain untuk mengkay sebagaimana mereka tidak minta diruqyah. Mereka menerima qadha' dan menikmati musibah yang menimpa mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Ali Syaikh berkata :

"Sabda Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam (لاَ يَكْتَوُوْنَ) lebih umum dari pada sekedar minta di kay atau melakukannya dengan kemauan mereka.

Sedangkan hukum kay sendiri dalam Islam tidak dilarang, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Jabir bin Abdullah :

أَنَّ النبيَّ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ بَعَثَ إِلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍطَبِيْبًا، فَقَطَعَ مِنْهُ عِرْقًا، ثُمَّ كَوَّاهُ عَلَيْهِ

“Bahwa Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam mengutus seorang tabib kepada Ubay bin Ka'ab, lalu dia memotong uratnya dan meng-kay-nya".

Demikan juga di jelaskan dalam shahih Bukhari dari Anas radhiyallâhu'anhu :

Anas berkata, “Bahwasanya aku mengkay bisul yang ke arah dalam sedangkan Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam masih hidup".

Dan dalam riwayat dari Tirmidzi dan yang lainnya dari Anas :

Sesungguhnya Nabi mengkay As'ad bin Zurarah karena sengatan kalajengking Juga dalam shahih Bukhari dari Ibnu Abbas secara marfu' :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ عَنِ النبيِّ ص الشِّفَاءُ فِى ثَلَاثٍ : بِشَرْبَةِ عَسَلٍ, وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ, وَكَيَّةِ نَارٍ وَاَنْهَى أُمَّتِيْ عَنِ الْكَيِّ. رواه البخاري

“Pengobatan itu dengan tiga cara yaitu dengan berbekam, minum madu dan kay dengan api dan saya melarang umatku dari kay. (Dalam riwayat yang lain: "Dan saya tidak menyukai kay").

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Hadits-hadits tentang kay itu mengandung 4 hal yaitu :

1. Perbuatan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Hal itu menunjukkan bolehnya melakukan kay.

2. Rasulullah tidak menyukainya. Hal itu tidak menunjukkan larangan.

3. Pujian bagi orang yang meninggalkan. Menunjukkan meninggalkan kay itu lebih utama dan lebih baik.

4. Larangan melakukan kay. Hal itu menunjukkan jalan pilihan dan makruhnya kay.

C. Tidak Melakukan Tathayyur

Mereka tidak merasa pesimis, tidak merasa bernasib sial atau buruk karena melihat burung atau binatang yang lainnya.

4. Mereka Bertawakal Kepada Allâh

Disebutkan dalam hadits ini, perbuatan dan kebiasaan itu bercabang dari rasa tawakkal dan berlindung serta bersandar hanya kepada Allâh.

Hal tersebut merupakan puncak realisasi tauhid yang membuahkan kedudukan yang mulia berupa mahabbah (rasa cinta), raja' (pengharapan), khauf (takut) dan ridha kepada Allâh sebagai Rabb dan Ilah serta ridha dengan qadha'-Nya.

Ketahuilah makna hadits di atas tidak menunjukkan bahwa mereka tidak mencari sebab sama sekali. Karena mencari sebab (supaya sakitnya sembuh) termasuk fitrah dan sesuatu yang tidak terpisah darinya.

Allâh Ta'ala berfirman :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ .....(٣)

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh, maka Allâh akan cukupi segala kebutuhannya".
(Ath-thalaq : 3)

Mereka meninggalkan perkara-perkara (ikhtiyar) makruh walaupun mereka sangat butuh dengan cara bertawakkal kepada Allâh. Seperti kay dan ruqyah, mereka meninggalkan hal itu karena termasuk sebab yang makruh. Apalagi perkara yang haram.

Adapun mencari sebab yang bisa menyembuhkan penyakit dengan cara yang tidak dimakruhkan, maka tidak membuat cacat dalam tawakkal.

Dengan demikian kita tidaklah meninggalkan sebab-sebab yang disyari'atkan, sebagaimana dijelaskan dalam shahihain dari Abu Hurairah radhiAllâhu’anhu secara marfu'.

ما أَنْزَلَ الله دَاءً إلا قد أَنْزَلَ له شِفَاءً عَلِمَهُ من عَلِمَهُ وَجَهِلَهُمن جَهِلَهُ

”Tidaklah Allâh menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan obat untuknya, mengetahui obat itu orang yang mengetahuinya dan tidak tahu obat itu bagi orang yang tidak mengetahuinya".

Dari Usamah bin Syarik dia berkata: Suatu ketika saya di sisi Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam , datanglah orang Badui dan mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami saling mengobati?"

فَقَالَ: نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ

Beliau menjawab : "Ya, wahai hamba-hamba Allâh saling mengobatilah, sesungguhnya Ta'ala tidaklah menimpakan sesuatu kecuali Dia telah meletakkan obat baginya, kecuali satu penyakit saja, yaitu pikun". (HR. Ahmad)

Berkata Ibnu Qoyyim rahimahullah : Hadits-hadits ini mengandung penetapan sebab dan akibat, dan sebagai pembatal perkataan orang yang mengingkarinya.

Perintah untuk saling mengobati tidak bertentangan dengan tawakkal. Sebagaimana menolak lapar dan haus, panas dan dingin dengan lawan-lawannya (misalnya lapar dengan makan). Itu semua tidak menentang tawakkal. Bahkan tidaklah sempurna hakikat tauhid kecuali dengan mencari sebab yang telah Allâh Ta'ala jadikan sebab dengan qadar dan syar'i. Orang yang menolak sebab itu malah membuat cacat tawakkalnya.

Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allâh Ta’ala kepada perkara yang bermanfaat bagi hamba untuk diri dan dunianya. Maka bersandarnya hati itu harus diimbangi dengan mencari sebab. Kalau tidak berarti ia menolak hikmah dan syari'at. Maka seseorang hamba tidak boleh menjadikan kelemahannya sebagai tawakkal dan tidaklah tawakkal sebagai kelemahan.

Para ulama berselisih dalam masalah berobat, apakah termasuk mubah, lebih baik ditinggalkan atau mustahab atau wajib dilakukan? Yang masyhur menurut Imam Ahmad adalah pendapat pertama, yaitu mubah dengan dasar hadits ini dan yang semakna dengannya.

Sedangkan pendapat yang menyatakan lebih utama dilakukan adalah madzhab Syafi'i dan jumhur salaf dan khalaf serta al-Wazir Abul Midhfar, Demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim. Sedangkan Madzhab Abu Hanifah menguatkan sampai mendekati wajib untuk berobat dan Madzhab Imam Malik menyatakan sama saja antara berobat dan meninggalkannya, sebagaimana disampaikan oleh Imam Malik : "Boleh berobat dan boleh juga meninggalkannya".

Dalam permasalahan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : "Tidaklah wajib menurut jumhur para imam, sedangkan yang mewajibkan hanyalah sebagian kecil dari murid Imam Syafi'i dan Imam Ahmad".

Kesimpulan hukum ruqyah terbagi 4 bagian :

1. Meruqyah orang lain

Hukumnya adalah mustahab (sunnah). Sebab Rasulullah SAW bersabda :

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ

“Barangsiapa diantara kalian mampu memberi manfaat kepada saudaranya, maka berilah padanya manfaat" (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dari Jabir)

Meruqyah termasuk perkara yang memberikan manfaat kepada orang lain.

2. Meminta diruqyah

Meminta diruqyah berarti ada ketergantungan kepada selain Allah, maka ini akan mengurangi tawakkal sehingga orang seperti ini kurang memiliki keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam hadits

3. Tidak menolak orang lain untuk meruqyahnya tanpa memintanya

Hukumnya adalah mubah (boleh) Yang demikian itu tidak mengurangi kesempurnaan Tauhid, sebab Rasulullah SAW tidak menolak ‘Aisyah untuk meruqyahnya. Adapun hadits di atas berbunyi, “Tidak minta diruqyah”. Tentunya berbeda antara seorang yang diruqyah dengan memintanya dan seorang yang diruqyah tanpa memintanya.

4. Tidak Bersedia untuk Diruqyah

Rosulullah SAW tidak menolak ketika diruqyah oleh malaikat Jibril AS dan ’Aisyah RA.

Wallahu a’lam bishshawab.
bagi temen temen yg masih ragu tentang minta ruqyah smoga bermanfaat.

Info ruqyah silahkan hubungi : 081902897666.